Potret Dinamika Mahasiswa Indonesia ; Peran Politik

Oleh : Indriyanto.

I

 Berbicara tentang dinamika peran politik mahasiswa Indonesia, maka tak akan lepas dari akar sejarahnya. Untuk itu, perlu dipahami background situasi kondisi yang melatarbelakangi “pola tingkah” mereka. Dalam hal ini, maka makna “mahasiswa” harus diletakkan pada konteks historisnya. Dengan kata lain, berbicara dengan dinamika peran politik mahasiswa Indonesia harus berada dalam kerangka historical mindedness, yaitu mengartikan dan memahami persoalan sesuai dengan jiwa zamannya. (Kartodirdjo, 1987) Jadi maksud mahasiswa dalam pembicaraan ini bukan  berarti selalu mengkonotasikan mahasiswa seperti pada masa sekarang ini. Bukan hanya pada mereka yang kuliah di Perguruan Tinggi saja, tetapi mereka yang mempunyai konsep pikir dan konsep laku dalam porsi dan proposinya sebagai seorang yang “seharusnya” disebut mahasiswa. Adalah lebih ideal, kalau pembicaraan tentang mahasiswa diletkan pada kerangka kepemudaan. Mengapa ? oleh karena mahasiswa bagian dari pemuda yang diharapkan mampu menjadi pelopor. Mereka adalah harapan bangsa dengan berbagai stigma yang harus disandangnya.

Kita dapat membedakan peran politik pemuda dalam dua periode, yaitu : masa kolonial dan masa setelah kemerdekaan, karena keduanya memperlihatkan perbedaan peran dan situasi kondisi yang sangat menarik untuk dibahas dan dikaji.

Kata dinamika, menunjukkan pada peran dinamis mahasiswa (pemuda) dari masa ke masa. Bagaimana mahasiswa menjawab tantangan jamannya. Sementara politik merupakan tatanan atau perangkat aturan yang berisi berbagai kebijkasanaan untuk melaksanakan fungsi dan tujuan negara. Dalam pemikiran ini, maka dua aspek yang penting yaitu aspek struktur politik dan aspek kultur politik. Penelahan terhadap struktur politik menyangkut perkembangan suprastruktur dan infrastruktur politiknya. Sementara dalam aspek kultur politik, pembicaraan yang penting menyangkut ideologi politik. Kedua aspek ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi sejak jaman kolonial hingga jaman kemerdekaan. Oleh karena itu, peran politik mahassiswa mempunyai makna, bagaimana mahasiswa mampu mempengaruhi proses politik dan berbaur dalam sistem politik sekaligus menjawab berbagai kendala politis yang melindungi dirinya.

II

Adalah suatu kenyataan sejarah (historische Notwendigheid), bahwa pemuda (Mahasiswa) sangat berperan dalam sejarah perjuangan bangsa. Momentum penting telah diukirnya. Angkatan kalau boleh disebut demikian 08,28,45,66, telah memberi tempat dan corak tersendiri sebagai fenomena historis dan fenomena sosial yang universal. Pengalaman sejarah inilah yang sekaligus memberi praduga/ prediksi histories pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang, bahwa pemuda tetap merupakan variabel yang menentukan dalam perjalanan hidup suatu bangsa. “Kesadaran Pemuda” dalam sejarah pergerakan pemuda mulai muncul di awal abad XX, tepatnya tahun 1908, ketika para pelajar STOVIA mendirikan Budi Utomo. Lalu kepeloporan Budi Utomo inilah telah mengilhami dan memberi semangat angkatan muda dalam kurun waktu berikutnya dengan beririnya berbagai organisasi kepemudaan, bagai jamur di musim hujan. Artinya, timbulnya organisasi-organisasi tersebut berada dalam suasana kekangan sistem penindasn kolonial.

Mulai dari organisasi yang bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Minahasa, Jong Ambon, dan lain-lain. Dengan demikian selanjutnya organisasi dengan corak yang beragama pun mulai tumbuh. Sifat agama dipelopori oleh Jong Islamieten Bond. Dalam lingkungan sekolah misalnya, maka pada tanggal 10 Oktober 1915 di Padang Panjang didirikan sekolah Diniyah School. Tidak ketinggalan pula dengan tumbuhnya organisasi pemuda di luar negeri. Indische Vereeniging di Belanda, Persatoean Talabah Indonesia Melayu di Saudi Arabia, Jamiatul Khiriyatul Jawiyah di Mesir adalah contoh-contoh. Selanjutnya organisasi kepanduan atau Nederlandsche  Padvinders Vereeniging ditumbuhkan di Jakarta pada tahun 1912. Tak ketinggalan pula organisasi pumda keputian seperti lahirnya Putri Mahardika tahun 1912 setelah empat tahun usia Budi Utomo . para pemuda seolah-olah bangkit dari mimpinya karena masyarakat berteriak minta uluran tangan pernannya.

Benih semangat nasionalisme pun muncul, ketika Sarekat Islam (1911) berhasil memperoleh massa yang sangat mengesankan. Hal ini mmpengaruhi perjuangan nasional pemuda slanjutnya dengan corak politik yang semakin jelas. PNI, tahun 1927 didirikan atas kepeloporan para pelajar Algemene Studi Club Bandung di bawah pimpinan Soekarno. Sifat nasionalistis jelas dan tegas mewarnai aktivitas mereka dengan corak kebangsaan Indonesia, nonkooperasi, dan percaya pada diri sendiri. Kesadaran untuk berkecenderungan ke arah persatuan organisasi telah muncul dengan bentuknya yang lebih berani. Kepeloporan PNI di bawah Bung Karno yang didukung oleh PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia). Programnya ialah: berusaha untuk mencapai dan menyamakan arah aksi kebangsaan, memperkuat dengan memperbaiki organisasi dan bekerjasama. Singkat cerita, mereka berhasil menelorkan “jimat” persatuan pemuda Indonesia yang sangat terkenal, yaitu diikrarkannya Sumpah Pemuda.

Perjalanan perjuangan pergerakan pemuda masih lagi panjang dengan retorik dan dinamika mudanya, mereka melangkah terus berjuang membebaskan diri dari cakar maut kolonialisme. Usaha persatuan kembali didengungkan melalui GAPI (Gabungan Politik Indonesia) dan Kongres Rakyat setelah kira-kira 50 tahun sumpah mereka. Rupanya “momok” bagi mereka yang melandasi persatuan telah berbeda dengan tahun 1928-an. Ancaman bahaya fasisme lebih mewarnai persatuan mereka, meskipun issue sentral mereka tetap pada perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Tidak kalah menarik pola tingkah pemuda pada tahun 1945-an sungguh menarik. Sampai-sampai Bennedict Anderson pun berucap, bahwa Revolusi 45 adalah revolusi pemuda. Mereka sangat revolusioner, militan dan dinamis, lebih-lebih gerak mereka dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Onghokam mengatakan pemuda akan mencapai posisi istimewa pada saat revolusi atau perang. Mengapa ? Pemuda rata-rata berusia 15-30 tahun, sementara revolusi dan perang sangat membutuhkan fisik yang kuat dengan dilandasi idealisme yang tinggi, meski kadang mreka menjdi umpan peluru dalam setiap peperangan atau revolusi. (Baca : Prisma Desember 1977).

Tahun 1966, fenomena historis yang diaktori pemuda kembali menari-nari : KAMI dengan Koran Mahasiswa Indonesia-nya merupakan eksistensi riil dari perjuangan pemuda untuk menumbangkan pemerintahan Soekarno dan menandai lahirnya Orde Baru. Student Movement menjadi bukti keperkasaannya, meskipun mereka harus bergandengantangan dngan tentara. (baca: Francois Raillon, 985) lalu, bagaimana dengan mahasiswa sekarang ?

III

Persoalannya adalah, siapa mereka ? Apakah semua golongan pemuda dalam arti mereka yang berumur antara 15 sampai 30 tahun mulai dari golongan petani, buruh, pelajar, penganggur, sampai “gali” ? Rupanya hanya mereka dari terpelajar saja yang berperan dalam proses ini. Pada tahun 1908-an gerakan dipelopori oleh pelajar STOVIA, demikian halnya dengan tahun 1928. Namun pada tahun 1945 ada bermacam-macam golongan karena suasana yang revolutif. Meskipun demikian, yang menjadi pelopor pemuda juga bisa dipastikan dari kalangan pemuda. Tahun 1966 jelas kita sudah tahu. Rupanya pemuda dalam sejarah atau sejarah kepemudaan telah memilih dan mendudukkan mereka yang terpilih di tempat istimewa bagi mereka yang muda dan terpelajar.

Lantas, pada kondisi yang bagaimana mereka bergerak atau berperan. Mereka melakukan gerakan dan peran setelah mereka “ berdialog” secara intens dengan lingkungan sosial politik jamannya. Di suatu tesa tentang kenyataan riil lingkungan sosial politik yang mengitarinya. Itulah yang dikatakan sebagai kondisi subyektif menyangkut penilaian terhsdap variable-variabel yang melingkupi dan berhubungan dengan kepentingan pemuda termasuk berkategori terpelajar. Sementara kondisi obyektif menyangkut gerakan pemuda dalam kerangka persoalan yang lebih luas, termasuk citra diri sebagai pemuda yang merintis masa depannya. Kemudian, apa yang melandasi kondisi semacam ini ? Jelas tatanan sistem kolonial yang sangat berantagonis dengan intrpretasi para pemuda, yaitu terjadinya diskriminasi social, domonasi politik, eksploitasi ekonomi, dan penetrasi budaya dari system kolonialisme dan imperialisme dengan segala bentuknya, berakibat terjadinya kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan lain-lain. (Indriyanto, 1990).

Struktur politik yang terjadi pada masa penjajahan adalah struktur politik kolonial. Bagaimana? Yaitu struktur yang menetapkan penguasa kolonial sebagai subyek pemegang segala kebijakan dalam menyukseskan tujuan kolonialnya. Dalam supra struktur, kekuasaan kolonial menempati posisi elit, sehingga elit politikpun dipegang dan didominasi oleh orang-orang Belanda. Sementara dalan supra struktur, perkembangan yang paradoksal telah terjadi. Banyak lembaga maupun organisasi yang dikebiri oleh pemerintah kolonial. Ironisnya, di antara organisasi-organisasi kemasyarakatan yang ada menunjukkan pada corak dan tujuan serta asas yang berbeda-beda.

Adapun ideologi politik masa kolonial merupakan asas politik kolonial Belanda yang berusaha memasukkan rakyat Indonesia ke dalam orbit kebudayaan penguasa, supaya mereka memiliki peradaban Barat. Van Limburg misalnya, merealisasikan partai Asosiasi Belanda, yaitu Politiek Economische Bond dengan tujuan mewujudkan suatu bangsa Hindia dengan jalan kooperasi dengan rakyat pribumi di bawah pimpinan Belanda (Kartodirdjo, 1972).

Setting ini dimobilisasi dengan masuknya ide-ide baru, meluasnya jaringan pendidikan, majunya industri dan teknologi, terbukanya sistem informasi, adanya differensiasi kerja, dan lain-lain. Dalam kerangka timbulnya nasionalisme di Indonesia, George Mc. Turnan Kahin, memberikan lima faktor pengaruh : 1) semangat setia kawan; 2) agama; 3) bahasa; 4) volksraad; 5) masuknya ide-ide dan informasi. (Kahin, 1980) Kondisi inilah yang akhirnya menyentuh rasa tanggungjawab para pemuda (mahasiswa) untuk memberikan respons terhadap tantangan yang dihadapinya.

Kemudian, bagaimana aktivitas mereka ? Dari moment-moment sejarah yang ada, memang trliht perbedaan motif dan gerak politik mereka. Angkatan 1908-an masih bersifat local kedaerahan, terbatas pada kaum priyayi dan berusaha memperbiki masyarakat melalui pndidikn yang dilandasi sifat-sifat social budaya. Pada angkatan 45-an, revolusi melandasi gerak dan pikirannya. Angkatan 66-an bersifat moralitas, yang dapat dilihat pad trituranya.

Dalam gerkan pemuda/ mahasiswa tersebut, sipa yang menjadi lawan mereka? Lawan mereka adalah penguasa. Pada masa sebelum kemerdekaan bisa dianalisis, bahwa antar mereka dengan penguasa jelas ada garis pemisah yang sangat tajam. Antara pemuda dengan penguasa sangat paradoksal. Pemuda sangat “antipati” dan benci dengan penguasa kolonial Belanda. Namun yang mnarik adalah fenomena gerakan pmuda setelah kemerdekaan, terutama gerakan yang mengatasnamakan mahasiswa. Masalahnya, mereka setelah meredeka telah menglami tahap penyatuan dengan penguasa. Masa Demokrasi Terpimpin telah memberi corak pada peran pemuda sebagai underbouw parta-partai, sehingga kemandirian mreka dalam mengukir sejarah “diragukan”. Lalu, bagaimana dengan angkatan 66 sendiri ? Di sini dapat dianalisis, bahwa tidak semua angkatan muda berusaha menumbangkan rezim Soekarno. Jadi tidak ada persatuan gerak dari pemuda pelajar secara keseluruhan. Gerakannya bersifat dualistis, satu kelompok masih mendukung penguasa, tetapi lainnya menyerang habis-habisan .

Kemudian dari gerakan pemudanya itu sendiri dapat dilihat, bahwa mereka “sadar” akan dirinya sebagai “aktor” karena bertemunya “titik solidaritas” antara mereka. Titik solidaritas itu merupakan power pemuda yang sangat efektif untuk merealisasikan moment sejarah. Namun setelah itu, power yang mereka punyai tadi berkecendrungan untuk memudar. Setelah terjadi moment sejarah, seakan-akan mereka kehilangan pegangan akan tujuan perjuangannya. Mereka telah berpecah dengan gaya dan coraknya sendiri-sendiri. Dengan demikian dalam sejarahnya, belum pernah diketemukan suatu persatuan pelopor yang kuat (meminjam istilah Partai Pelopor) dari seluruh pemuda di Indonesia. Meskipun usaha ke arah itu beberapa kali dicoba seperti PPKI, GAPI, Kongres Rakyat, dan KAMI rupanya mereka tidak begitu berhasil membentuk persatuan pemuda pelopor. Selain itu, dalam setiap moment sejarahnya gerakan pemuda itu tidak pernah berdiri sendiri. 1908 terpengaruh oleh kebesaran SI, 1928 terpengaruh oleh partai-partai politik “dewasa”, 1945 harus bekerjasama dengan “golongan tua” (BK,BH), dan tahun 1966 mereka harus bergandengan tangan dengan tentara (AD). Rupanya perangkat politik atau kalau boleh dikatakan rekayasa politik terhadap terhadap masyarakat umum telah mmpengaruhi partisipasi politik

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s