SITUASI EKONOMI INDONESIA PADA MASA AKHIR PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA

SEBUAH ESTIMASI PENGHASILAN PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA DARI INDONESIA 1900-1939.

 oleh : indriyanto

  1. Pendahuluan

houttransport-per-lorrie-in-nederlands-indic3ab-1910eSampai tahun 1830, perkembangan ekonomi Indonesia masih menunjukkan adanya persoalan yang dilematis, khususny dalam kebijakan ekonomi yng harus diterapkan terhadap Indonesia. Sementara kas negeri Belanda selalu membutuhkan uang. Keadaan inilah yang menyebabkan Belanda mencari jalan dalam usahanya untuk mengisi kas negara. Cultuur Stelsel diterapkan oleh Belanda di Indonesia tahun 1830, yang dalam beberapa hal merupakan reaksi terhadap stelsel tanah terdahulu.

Di atas kertas, ketentuan-ketentuan yang mengatur Cultuur Stelsel memang tidak terlampau menekan rakyat. Dengan sistem ini, aktivitas keuangan dalam arti penerimaan uang oleh pemerintah semakin meningkat. Pada tahun 1829, penerimaan atas pajak tanah misalnya, mencapai f. 3.305.698. pad tahun 1835 menjadi f. 7.679.359, tahun 1840meningkat lagi menjadi f. 9.364.907.

Luas penanaman tanaman paksa pun sangat mempengaruhi hasil produksi tanaman ekspor. Pada tahun 1833, luas seluruhnya berjumlah ± 964.000 bau dan dipergunakan untuk penanman wajib kira-kira 56.000 bau, sedangkan pada tahun 1861 sewaktu penanaman wajib mulai ditinggalkan jumlah itu mengecil menjadi 53.000 bau.

imagesDari masa ke masa, sistem cultur stelsel telah menjadikan pemerintah kolonial dan kerajaan Belanda menjadi kaya raya. Dari berbagai tanaman ekspor yang dipaksakan untuk ditanam, maka telah menghasilkan keuntungan yang terus meningkat. Kalau tahun 1830, hasil yang diperoleh Cuma 12,9 juta gulden, maka pada tahun 1840 jumlah itu bertambah menjadi 74,2 juta gulden. Sampai tahun 6, saldo untung pemerintah kolonial sebesar f. 497 juta, dan dalam sepuluh tahun berikutnya mencapai f. 27 juta, sehingga laba seluruhnya mencapai f. 784 juta. Dari keuntungan ini Hindia Belanda dari tahun 1877 telah dapat melunasi hutangnya sebanyak 35,5 juta gulden dan selain itu juga telah memberikan sumbangan pada kas Negeri Belandaberjumlah f. 664,5 juta. Pengarug sistem ini tidak hanya memberi hasil besar bagi pemerintah, tetapi juga telah mendorong memajukan perdagangan dan pelayaran belanda. Bahkan, Belanda dapat menmpati kembali posisinya sebagai pusat penjualan bahan mentah dan armada dagangnya menjadi nomor tiga di seluruh dunia.

Memang, sejak pertengahan abad XIX, pengaruh penetrasi Barat mulai semakin jelas. Di bidang ekonomi akibat yang paling mencolok adalah meningkatnya penduduk di Jawa dan pemakaian perekonomian uang. Lebig dari itu sistem ini juga memperkaya pengusaha-pengusaha pabrik, pedagang-pedagang, dll yang mengakibatkan mulai tumbuhnya modal industri partikelir. Fakta ini mempunyai akibat-akibat yang lebih jauh dalam politik kolonial sesudah tahun 1850. pemulihan yang pesat di bidang ekonomi disertai lahirnya partai Liberal yang menggerakkan oposisi secara gigih terhadap politik konservatif khususnya terhadap Cultuur Stelsel. Protes-protes terhadap pelaksanaan Cultur Stelsel telah menyebabkan lahirnya Undang-undang Agraria tahun 1870 untuk membatasi penanaman wajib secara perlahan-lahan.

Babak baru dalam politik kolonial diawali dengan hadirnya Undang-undang Agraria 1870 yang membawa kejayaan golongan liberal. Di satu pihak Undang-undang ini berusaha melindungi petani dari perampasan hak milik oleh bangsa asing, tetapi dilain pihak sekaligus membuka jalan bagi masuknya investasi modal barat dalam bentuk perusahaan-perusahaan perkebunan swasta secara besar-besaran.

Nasionalisme ekonomi Pada awal kemerdekaanRupanya penetrasi perekonomian Barat tidak hanya terbatas pada penanaman tanaman dagang saja. Munculnya perindustrian di Eropa Barat menyebabkan pada produsen mencari pasaran di Indonesia untuk menjual barang-barang produksi massal yang murah, sehingga ekonomi uang semakin meluas ke dalam masyarakat Indonesia. Akibat dari meluasnya perkebunan swasta, tanaman ekspor semakin berkembang. Perdagangan meningkat, dan ekspor-impor pun meningkat pula. Politik kolonial ini berlangsung hingga 1942.

Berdasarkan pada setting historis tersebut, dalam tulisan ini akan dibahas dua permasalahan, yaitu : 1)bagaimana situasi ekonomi Indonesia hingga tahun 1939; 2) bagaimana estimasi keuntungan pemerintah kolonial Belanda yang diperoleh dari Indonesia.

 

 

 

 

  1. Situasi Ekonomi Indonesia 1900-1939

Proses liberalisasi ekonomi yang dimulai tahun-tahun 1870-an bersamaan dengan pembukuan terusan Suez, mengakibatkan peningkatan dalam laju pertumbuhan eskpor-impor. Wertheim mencatat neraca perdagangan di Indonesia, sebagai berikut :

Tabel 1 : Neraca Perdagangan Indonesia 1891-1930

 

Masa (Rata-rata) Impor Ekspor Surplus Ekspor
1891-1895 162 206 44
1896-1900 170 227 57
1901-1905 197 275 78
1906-1910 258 414 156
1911-1915 407 643 235
1916-1920 685 1339 654
1921-1925 871 1417 600
1926-1930 994 1501 507

Sumber: W.F. Wetheim, 1960. Indonesia Society in Transition (Bandung: Sumur Bandung), hal. 87.

Dari data tersebut dapat dilihat, bahwa neraca perdagangan yang berlangsung pada akhir abad XIX menunjukkan angka yang kurang menggembirakan. Meskipun demikian sejak abad XX, nasib baik perekonomian Indonesia dalam sektor ekspor memperlihatkan peningkatan yang amat besar. Tahun-tahun ini menunjukkan diversifikasi bahan-bahan ekspor yang banyak menuju ke empat jurusan penting. Pertama, komoditi-komoditi ekspor berubah dengan bahan-bahan pokok tradisional seperti the, kopi dan gula semuanya menurun kepentingan secara relatif, bahan-bahan pokok baru seperti minyak, karet, kelapa sawit, dan hasil olahan minyak tanah meningkat. Kedua, jawa kehilangan kedudukan sebagai daerah dominan, ketika menjelang tahun 1925, kepulauan di luar Jawa menghasilkan lebih dari 50% terhadap semua bahan-bahan ekspor pertanian. Ketiga,dihubungkan dengan bertambahnya bahan-bahan pokok baru untuk ekspor di luar Jawa adalah bangkitnya petani kecil. Antara tahun 1900-1930, hasil petani kecil untuk ekspor meningkat secara cepat daripada produksi perkebunan. Pada tahun 1894, 90% dari komoditi ekspor pertanian dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan, dan angka ini menjelang tahun 1925 menurun sampai 63%. Di luar Jawa, para petani kecil menghasilkan kira-kira 60% dari seluruh ekspor pertanian (CEI Jilid I, tabel 2). Keempat, terjadi perubahan dramatis dalam arah perdagangan ekspor. Bahkan belum terdapat kenaikan volume ekspor dalam dasawarsa 1890-an, pentingnya Eropa (terutama Negeri Belanda)bagi perdagangan Ekspor di Indonesia berkurang.

Di bidang perpajakan, tekanan terhadap rakyat semakin meningkat. Pada tahun 1919 sampai 1921, kira-kira f. 24 juta setahun telah diperoleh, dan hal ini dinaikan menjadi f. 28 juta pada tahun 1923, dan f. 34 juta pada tahun 1925. penghasilan dari pajak sebagian bagian dari seluruh penghasilan pemerintah meningkat secara mantap sepanjang periode 1915-1940, walaupun penghasilan dari pajak kira-kira 50% dari pengeluaran pemerintah pusat menjelang akhir tahun 1930-an.

sistem-perekonomian-indonesia-tanam-paksa.jpgPada dasawarsa terakhir pemerintah kolonial Belanda, saat resesi/depresi ekonomi sedang melanda dunia, perekonomian Indonesia juga mengalami kegoncangan-kegoncangan. Hal ini disebabkan juga oleh struktur ekonomi yang timbul dari ekspor-politik yang berat sebelah dan labil, serta terombang-ambing oleh perekonomian dunia. Dari laporan statistik yang dikeluarkan oleh Liga Bangsa-Bangsa, dapat disimpulkan, bahwa krisis ekonomi berlangsung lebih lama dan lebih berat di Indonesia, dibandingkan dengan negara lainnya. Perusahaan barat dan penduduk pribumi sama-sama menderita. Kemerosotan yang tajam dalam harga-harga produksi pertanian dunia menimbulkan kesulitan-kesulitan besar di Indonesia. Penghasilan dan penjualan produk-produk pertanian menurun secara tajam dalam waktu yng singkat. Di desa kemerosotan itu sampai mencapai lebih dari 70%. Bahkan, upah mengalami penurunan lebih dari 60% dan sewa yang dibayar untuk tanah perkebunan juga mengalami kemerosotan.

Meskipun demikian, ternyata perkembangan ekonomi telah menimbulkan differensiasi sosial yang semakin besar. Kecenderungan itu bisa dilihat dengan mulai munculnya organisasi-organisasi pergerakan nasional dan timbul semangat nasionalisme bangsa indonesia, sehingga perkembangan klas menengah pribumi agak subur. Meskipun demikian, politik pemerintah dalam perekonomian tetap ditentukan oleh kepentingan-kepentingan perusahaan perkebunan. Namun, cengkraman perusahaan-perusahaan besar itu agak mengendur pada masa-masa resesi dengan ditinggalkannya perkebunan-perkebunan gula, sehingga produksi gula pada masa resesi mengalami penurunan cukup tajam.

 

Tabel 2: Produksi gula 1930-1936.

Panen Tahun

(a)

Daerah Panen

(b)

Produksi

(c)

Jumlah

(d)

1930-31 200,831 2,839 178
1931-32 166,138 2,611 128
1932-33 84,343 1,401 64
1933-34 34,211 644 23,5
1934-35 27,578 313 19,5
1935-36 35,572 564 25

Sumber: W.F. Wetheim, op.cit., hal. 91.

Keterangan : a) merupakan tafsiran kasar

  1. b) dalam hektar
  2. c) dalam 1000 ton
  3. d) dalam juta gulden dengan harga rata-rata pada masa panen.

Krisis dunia yang berkecamuk itu telah menyebabkan sumber keuangan pemerintah semakin merosot dan perdagangan turun 65%.

Sementara itu perbandingan antara harga impor dan harga ekspor yang telah meningkat hampir tiada putusnya antara tahun 1893 dan 1925, mengalami penurunan yang hebat antara tahun 1927 dan 1933. daya beli dari pendapatan ekspor indonesia dalam tahun 1932 hanya berjumlah 60% dari daya beli pada tahun 1925, walaupun pada akhir dasawarsa 1930-an terdapat perbaikan. Pada saat peperangan semakin mendekat, terjadi perubahan-perubahan di dalam harga bahan makanan. Pada tanggal 25 April 1939 beberapa bulan sebelum perang di Eropa meletus sudah dibentuk dana bantuan makananuntuk menjaga jikalau hubungan antar pulau terputus. Pulau selain Jawa dan Madura dianjurkan untuk menambah hasil bumi. Harga padi ditetapkan oleh pemerintah, dan beras yang berlebihan pada akhir panen pada thun 1940 akan dibeli oleh Dana Bantuan Makanan. Menurut Anne Booth, sejak tahun 1905 produksi besar sebenarnya sudah mengalami peningkatan dari 100 kg per kapita pada tahun 1905 menjadi 117kg per kapita pada tahun 1915. peningkatan kecepatan produksi beras ini stidak-tidaknya sebagian disebabkan oleh pengeluaran yang meningkat pada sektor pekerjaan umum.

Pertumbuhan volume ekspor juga bertambah pesat, terutama dari pihak petani kecil di luar Jawa. Itulah sebabnya penghasil bumiputra meningkat lebih cepat di luar Jawa dalam dasawarsa 1920-an. Sementara itu, perbandingan antara ekspor dan impor komoditi Indonesia menurun dengan tajam sejak tahun 1913 ke depan. Pada permulaan dasawarsa 1930-an, penurunan ini, sedemikian curam, sehingga the income terms of trade juga menurun, walaupun pada akhir dasawarsa itu agak baik kembali.

Berkitn dengan perkembangan ekonomi di Indonesia, maka di sisi lain terjadi pula plebaran differensiasi kerja. Jumlah dan jenis kerja yang bisa dilakukan bertambah banyak. Jenis kerja dan jasa yang selama ini tidak dikenal atau tidak diperlukan dalam kehidupan tradisional, seperti pertambangan, beberapa jenis pengangkutan tertentu, pegawai dan maskapai, dan sebagainya, saat itu telah terbuka. Dengan demikian secara keseluruhan dapatlah dikatakan bahwa susunan masyarakat mengalami perubahan sebagai akibat dari perubahan ekonomi. Widjojo Nitisastro mencatat differensiasi kerja dari tenaga kerja di Indonesia pada tahun 1930 sebagai berikut :

Tabel 3: Kegiatan ekonomi dari tenaga kerja di Indonesia 1930.

 

 

  1. Estimasi Keuntungan Pemerintah Belanda dari Indonesia.

Bagaimanapun juga, penerapan kolonialisme di Indonesia akan memberikan keuntungan pada pemerintah Belanda. Hal ini sesuai dengan susunan masyarakat Indonesia pada masa kolonial yang sengaja dibentuk berdasarkan perhitungan ekonomi. Menurut K. Goenadi, susunan masyarakat Indonesia pada masa kolonial adalah sebagai berikut:

    1. lapisan modern Kapitalisme dengan segala cabng-cabangnya, yaitu perdagangan besar, perkebunan, industri, pertambangan, angkutan darat-laut-udara dan orang-orang asing, bahkan dalam staf pimpinannya tidak terdapat orang Indonesia.
    2. Lapisan Tengah (middenstand) yang menguasai jual beli barang-barang keperluan sehari-hari dan hasil pertanian untuk dan dari rakyat, menguasai pula pabrik-pabrik dan alat-alat produksi kecil lainnya. Lapisan ini terdiri juga bukan orang Indonesia (Timur Asing).
    3. Lapisan ketiga, yaitu lapisan bawah terdiri dari buruh dan tani kecil yang terdiri atas bangsa Indonesia.

Dalam lapisan middenstand, ada beberapa orang Indonesia, tetapi mereka itu tidak mempunyai arti apa-apa dalam perekonomian Indonesia. Struktur sosial yang telah digariskan oleh pemerintah kolonial ini merupakan struktur kapitalis dalam lingkungan ekonomi jajahan atau ekonomi kolonial yang merupakan perlengkapan ekonomi negara yang menjajah dengan memuat elemen-elemen :

  1. daerah jajahan adalah gudang bahan-bahan mentah.
  2. daerah jajahan adalah pasar barang-barang buatan negara yang menjajah.
  3. daerah jajahan adalah tempat menanam modal yang berasal dari negara yang menjajah (sebagian besar).
  4. daerah jajahan adalah tempat bekerja tenaga-tenaga dari negara yang menjajah, secara mudah, murah, mewah, dan secara dipertuan.
  5. penduduk daerah jajahan adalah perlengkapan usaha penjajah mengumpulkan laba.

Dengan demikian kondisi sosial ekonomi yang seperti ini diharapkan keuntungan akan dapat mengalir ke tangan pemerintah kolonial secara kontinu dan meningkat. Beberapa sektor ekonomi telah membuktikan adanya keuntungan yang telah diperoleh pemerintah Belanda.

Sejak berdirinya pengadaian negeri pada tahun 1901, keuntungan pemerintah pada tahun 1919-1925 mencatat rata-rata f. 5,5 juta/tahun. Pada tanggal 1 Januari 1904, pemerintah mengambil alih monopoli garam dan candu yang pada tahun 1925 telah memberikan untung besar f. 8 juta. Pada tahun 1926 keuntungan pemerintah dalam perdagangan candu mencapai f. 29,2 juta. Pada tahun 1907 pemerintah mengeluarkan landrente yang baru dengan cara mengukur tanah dan mengualifikasikan tanah, serta menimbang hasil produksinya, sehingga menambah kenaikan pajak tanah dan memperbesar keuntungan pemerintah. Sementara itu, sebagai akibat dari perubahan arus perdagangan, maka penanaman modal di tanah jajahan semakin luas. W de Cook Buning menaksir jumlah modal yang ditanam di Indonesia pada tahun 1923 sekitar f. 2.650 juta dengan perincian ± f. 1.900 juta (bld), f. 300 Juta (inggris), f. 250 juta (Cina) dan sisanya milik Belgia, Amerika, Perancis, Jepang, dll. Dalam periode berikutnya jumlah ini berkembang menjadi f. 3600 juta dengan f. 2.600 juta diantaranya milik Belanda. (jumlah ini belum terhitung penanaman modal oleh perusahaan yang mempunyai lapangan kerja di Belanda dan perusahaan kecil milik pribumi). Adapun akibat dari meningkatnya jumlah modal itu terlihat pada naiknya angka saldo ekspor rata-rata sebesar f. 78,5 juta/tahun, maka antara tahun 1921-1925 mencapai rata-rata f. 586 juta/tahun.

Dengan semakin membaiknya perekonomian di Indonesia, maka minat para menanam modal asing pun meningkat, sehingga pada tahun 1938 modal yang ditanam di perusahaan maupun sektor lain mencapai jumlah f. 5.300 juta. Sebagai penanam modal terbesar adalah Belanda (f. 3.000 Juta), sedangkan sisanya berturut-turut modal Inggris (f. 370 juta), Amerika Serikat (f. 30 Juta), Jepang (f. 30 juta), dan Italia (f. 30 juta). Berdasarkan perkiraan maka modal tersebut ditanamkan di sektor ekonomi sebagai berikut :

 

Tabel 4 : Penanaman Modal Asing di Indonesia 1983

Sektor Jumlah (dalam jutaan Gulden)
1. perkebunan 1.250-1.400
2. pertambangan    400-600
3. perbankan    200
4. jaringan KA dan pelayaran    500-800
5. Perdagangan besar dan kecil.    500

 

 

 

 

 

 

Secara khusus, estimasi investasi Belanda dan nilai total ekspor ke luar negeri dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 5 : Perkiraan Investasi Belanda dan total Ekspor 1910-1930 (nilai rata-rata dalam jutaan gulden)

Tahun Investasi Modal Belanda Total Nilai Ekspor
1910/14 97.2 596.6
1915/19 117.0 1062.0
1920/24 188.4 1480.4
1925/29 219.2 1618.8
1930/34 68.4 648.8
1935/39 52.6 672.5

Sumber : J.Th. Linblad, “Foreign Investment in Late-Colonial and Post-Colonial Indonesia, dalam Economic and Social History of The Nederlands 3 (1991), hal. 193.

Untuk membandingkan seberapa besar total nilai ekspor yang berasal dari Investasi modal Belanda dengan total nilai ekspor dari semua produk Indonesia bisa dilihatpada tabel berikut :

 

Tabel 6 : Nilai Tabel Ekspor Indonesia 1913-1939 (semua produksi)

Tahun Total Nilai Ekspor
1913 671,433
1928 1577,026
1937 951,194
1939 746,327

Sumber : Angus Maddison, “Ducth Income in and From Indonesia, 1700-1938, dalam Angus Maddison dan Ge Prince, Economic Growth in Indonesia 1820-1940 (Dordrecht-Holland : Foris Publication, 1989), hlm. 37.

Dari kedua tabel tersebut dapat diketahui, betapa besarnya peran modal Belanda yang ditanam di Indonesia dalam aktivitas ekspor, yang sudah barang suatu akan mengalirkan keuntungan yang besar pula.

Selanjutnya, Soemitro Djojohadikoesmo menghitung estimasi penanam modal Belanda di Indonesia sebelim Perang Dunia II yaitu sebagai berikut :

 

Tabel 7 : Penanaman Modal Belanda di Indonesia Tahun 1938 (dalam juta rupiah).

Sektor Jumlah
1. Perkebunan gula 400
2. Perkebunan karet 450
3. Perkebunan lain-lain 350
4. bank-bank Pertanian besar 274
5. Timah 10
6. Minyak tanah 500
7. Pelayaran 100
8. Jalan kereta api dan trem 150
9. Perusahaan-perusahaan Negara 100
10. Industri 50
11. Lain-lain 250
Jumlah                    2.634

 

Sumber : Soemitro Djojohadikoesmo, “Apa Arti Indonesia Bagi Nederland, diokoer dengan oeang?”, dalam patriot, Saptoe 28 September 1946, hlm. 2.

Apabila jumlah ini ditambah dengan semua obligasi pemerintah Hindia Belanda yang dipegang oleh Belanda pada tahun 1938 sejumlah kira-kira 1.200 juta onderneming-onderneming Belanda yang didirikan di Belanda yang mempunyai cabang di Indonesia, maka ke seluruhan modal Belanda di Indonesia di taksir sekitar 4 milyar rupiah. Apabila kekayaan Belanda sebelum pecah perang berjumlah kurang lebih 24 milyar, maka tidak kurang dari 16,6% dari kekayaan tersebut tertanam di Indonesia. Selanjutnya, berapa estimasi pendapatan yang diperoleh Belanda dari Indonesia ? Untuk menjawab hal itu, perlu dilihat deviden-deviden atau laba-laba yang ditarik oleh Belanda dari Indonesia.

 

Tabel 8 : Estimasi Pendapatan Belanda dari Indonesia setiap tahun sebelum Perang Dunia II (dalam juta Rupiah)

Sektor Jumlah
1. Deviden dan bunga 191,5
2. Laba yang tidak dibayar 10
3. Gaji dan Pensiun 160
4.Upah dan lab yang berkaitan dengan ekspor ke Indonesia.  

36

Jumlah

(dibulatkan)

397,5

400

 

Sumber : Soemitro Djojohadikoesmo, “apa arti..’, ibid.

Jenis-jenis pendapat tersebut menurut Soemitro hanya merupakan pendapatan dari beberapa golongan yang berkepentingan langsung dengan Indonesia sebagai negara jajahan. Pendapatan ini lazim disebut pendapat primer. Akan tetapi, selain golongan-golongan tersebut, banyak pula golongan masyarakat Belanda yang juga mendapat penghasilan sebagai akibat dari pendapat primer, karena pendapatan primer telah membuka lapangan pekerjaan dan mata pencaharian pada beberapa golongan masyarakat di Belanda yang sebenarnya tidak punya hubungan dengan Indonesia. Pendapatan ini lazim disebut sebagai pendapatan sekunder. Menurut perhitungan ekonomi, pendapatan sekunder merupakan 70% dari pendapatan primer, sehingga berjumlah 280 juta rupiah (70%x 400 juta). Apabila kedua pendapatan ini dijumlahkan, maka julah itu merupakan 14% dari pendapatan nasional Belanda.

 

  1. Kesimpulan

Situasi ekonomi Indonesia mengalami perkembangan dan dinamika yang sangat pesat setelah diberlakukannya Cultuur Stelsel tahun 1830. penetrasi ekonomi kolonial semakin jelas terjadi sejak tahun 1850 dan membawa implikasi yang cukup mendasar sejak tahun 1870 dengan diterapkan politik kolonial liberal. Pertumbuhan ekonomi meningkat pesat sampai tahun 1920-an. Krisis dunia tahun 1930 sangat mempengaruhi situasi ekonomi Indonesia sehingga sebagian besar perkembangan sektor ekonomi mengalami penurunan. Namun demikian keadaan ini mulai membaik pad akhir dasawarsa 1940.

Pada akhir masa kolonial, perkembangan ekonomi tetap ditentukan oleh peran perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah kolonial Belanda. Meskipun demikian terjadi juga perkembangan differensiasi sosial maupun kerja dari penduduk Indonesia, serta munculnya peran wilayah luar jawa sebagai pendukung ekspor Indonesia.

Dari perkembangan ekonomi Indonesia dapat diketahui, bahwa pendapatan dan keuntungan pemerintah kolonial sangat besar dan senantiasa dapat memberikan sumbangan bagi negeri Belanda. Sejak tahun 1901 smpai 1925 keuntungan yang diperoleh pemerintah kolonial Belanda menunjukkan peningkatan, namun sejak tahun 1930-an pendapatan dan keuntungan pemerintah mengalami penurunan akibat resesi ekonomi yang melanda dunia. Meskipun demikian keuntungan terus mengalami peningkatan pada akhir masa kolonial di Indonesia.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s